Sabtu, 18 September 2021

Strategi Pembelajaran Jigsaw

MAKALAH 
Strategi Pembelajaran PAI
"Strategi Pembelajaran Jigsaw"

 
Nama : Bainal Huri
Nim : 1911210111

Dosen 
Dr. Mus Mulyadi, S.Ag, M.Pd

Fakultas Tabiyah Dan Tadris
Prodi Pendidikan Agama Islam
Institut Agama Islam Negeri Bengkulu
2020



KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur selalu kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Sholawat dan salam selalu pula kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, keluarga dan sahabat-sahabatnya yang telah membawa kedamaian dalam beragama.
Makalah “STRATEGI PEMBELAJARAN PAI" ini saya buat sebagai salah satu pemenuhan tugas yang diajarkan oleh dosen pembimbing kami. Dengan harapan makalah ini dapat menambah pengetahuan dan memberikan manfaat bagi mahasiswa dan pembaca lainnya.
Saya selaku penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini tentunya masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan baik dari materi maupun tata cara penulisan. Maka dari itu saya sangat membutuhkan kritik yang bersifat membangun serta saran dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini.














DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
Latar belakang 4
Rumusan masalah 4
Tujuan 5
BAB II PEMBAHASAN 
A. Pengertian Strategi Pembelajaran Jigsaw 6
B. Karakteristik  Strategi Pembelajaran Jigsaw 7
C. Tujuan Strategi Pembelajaran Cooperative Jigsaw 8
D. Kekurangan dan Kelebihan Strategi Pembelajaran Jigsaw 8
E. Langkah-Langkah Strategi Pembelajaran Jigsaw 9
BAB III PENUTUP
Kesimpulan 10
Saran 10
DAFTAR PUSTAKA









BAB I
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang
Dalam era global, teknologi telah menyentuh segala aspek pendidikan sehingga, informasi lebih mudah diperloleh, hendaknya siswa aktif berpartisipasi sedemikian sehingga melibatkan intelektual dan emosional siswa didalam proses belajar. Keaktifan disini berarti keaktifan mental walaupun untuk maksud ini sedapat mungkin dipersyaratkan keterlibatan langsung keaktifan fisik dan tidak nya berfokus pada satu sumber informasi yaitu guru yang hanya mengandalakan satu sumber komunikasi. Seringnya rasa malu siswa yang muncul untuk melakukan komunikasi dengan guru, membuat kondisi kelas yang tidak aktif sehingga berpulang pada rendahnya prestasi belajar siswa. Maka perlu adanya usaha untuk menimbulkan keaktifan dengan mengadakan komunikasi yaitu guru dengan siswa dan siswa dengan rekannya. Salah satu pembelajaran yang ditawarkan adalah kooperatif tipe jigsaw.
            Falsafah yang mendasari pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam pendidikan ialah “homo homoni socius” (pembelajaran gotong-royong) yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk social. Pembelajaran kooperatif terutama tipe jigsaw dianggap sangat cocok di terapkan di Indonesia karena sesuai dengan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong.
            Model pembelajaran jigsaw adalah suatu tehnik pembelajaran kooperatiff dimana siswa, bukan guru yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam pelaksanaan pembelajaran. Adapun tujuan dari model pembelajaran jigsaw ini mengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif, serta  menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh bila  mereka mencoba untuk mempelajari semua materi secara sendirian.
            Menurut Anita Lie dalam bukunya “Cooperative Learning Teknik Jigsaw” bahwa metode pembelajaran koopertif teknik jigsaw tidak sama dengan sekadar belajar kelompok, tetapi ada unsure-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Roger dan David Johnson mangatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning teknik jigsaw. 
B. Rumusan Masalah
A. Apa Pengertian Strategi Pembelajaran Jigsaw?
B. Bagaimana Karakteristik  Strategi Pembelajaran Jigsaw?
C. Bagaimana Tujuan Strategi Pembelajaran Jigsaw?
D. Apa saja Kekurangan dan Kelebihan Strategi Pembelajaran Jigsaw?
E.  Bagaiman Langkah-Langkah Strategi Pembelajaran Jigsaw?
C. Tujuan
A. Untuk mengetahui apa Pengertian Strategi Pembelajaran Jigsaw
B. Untuk mengetahui bagaimana Karakteristik  Strategi Pembelajaran Jigsaw
C. Untuk mengetahui bagaimana Tujuan Strategi Pembelajaran Jigsaw
D. Untuk mengetahui apa saja Kekurangan dan Kelebihan Strategi Pembelajaran Jigsaw
E.  Untuk mengetahui bagaiman Langkah-Langkah Strategi Pembelajaran Jigsaw




















BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian strategi pembelajaran jigsaw
Istilah metode berasal dari bahasa Yunani "Metodos". Kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu "Metha" yang berarti melalui atau melewati dan "hodos" jalan atau cara. Jadi metode adalah suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Pengertian Kata jigsaw berasal dari bahasa Inggris yang berarti “gergaji atau memotong”. Dalam metode pembelajaran teknik jigsaw termasuk dalam jenis metode pembelajaran kooperatif. 
Metode jigsaw adalah teknik pembelajaran kooperatif di mana siswa, bukan guru, yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam melaksanakan pembelajaran. Jigsaw adalah teknik pembelajaran aktif yang biasa digunakan karena teknik ini mempertahankan tingkat tanggung jawab pribadi yang tinggi. Tujuan dari jigsaw ini adalah mengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif, dan menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh apabila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi sendirian. 
Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et.al.sebagai model Cooperative Learning. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis,berbicara, ataupun mendengarkan. Dalam Teknik ini, guru memperhatikan skema atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan schemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan ketrampilan berkomunikasi.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupaka tipe model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kapada kelompok yang lain. 
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, “siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan”. 
Menurut pemakalah Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekan pada sikap atau perilaku bersama dalam belajar atau membantu diantara sesame dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih.
Penerapan model pembelajaran cooperative learning tipe jigsaw ini pada kelas siswa dibagi berkelompok dengan lima atau enam anggota kelompok belajar heterogen.setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari,menguasai bagian tertentu bahan yang diberikan kemudian menjelaskan pada anggota kelompoknya. Dengan demikian terdapat rasa saling membutuhkan dan harus berkerjasama secara cooperative untuk mempelajari materi yang ditugaskan.
B. karakteristik strategi pembelajaran jigsaw
Pembelajaran kooperatif jigsaw telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai penelitian, tujuannya untuk meningkatkan kerjasama akademik antar siswa, membentuk hubungan positif, mengembangkan rasa percaya diri, serta meningkatkan kemampuan akademik melalui aktivitas kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif jigsaw terdapat saling ketergantungan positif di antara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses.
Aktivitas belajar berpusat pada siswa dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas bersama, saling membantu dan saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui interaksi belajar yang efektif siswa lebih termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan strategi berpikir tingkat tinggi, serta mampu membangun hubungan interpersonal. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memungkinkan semua siswa dapat menguasai materi pada tingkat penguasaan yang relatif sama atau sejajar. Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang dikemukakan adalah sebagai berikut.
a.  Belajar bersama dengan teman.
b.  Selama proses belajar terjadi tatap muka antar teman.
c.  Saling mendengarkan pendapat di antara anggota kelompok.
d.  Belajar dari teman yang berbeda kelompok.
e.  Belajar dalam kelompok kecil.
f.   Produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat.
g.  Keputusan tergantung pada siswa sendiri. 
h.  Siswa aktif.
c. Tujuan strategi pembelajaran jigsaw
Tujuan pembelajaran metode jigsaw adalah untuk melatih peserta didik agar terbiasa berdiskusi dan bertanggiungjawab secara individu untuk membantu memahamkan tentang sesuatu materi pokok kepada teman sekelasnya. Pembelajaran yang menggunakan metode ini menganut pada teori kognitif Jean Piaget dan teori konstruktivisme. Teori konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Pembinaan pengetahuan seperti ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. 
D. kelemahan dan kelebihan strategi pembelajaran jigsaw
Menurut Shoimin kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw juga dijelaskan dalam sebagai berikut:
1) memungkinkan murid dapat mengembangkan kreativitas, kemampuan, dan daya pemecahan masalah menurut kehendaknya sendiri,
2) hubungan antara guru dan murid dapat berjalan secara seimbang dan memungkinkan suasana belajar menjadi sangat akrab sehingga memungkinkan harmonis,
3) memotivasi guru untuk bekerja lebih aktif dan kreatif,
4) mampu memadukan berbagai pendekatan belajar, yaitu pendekatan kelas, kelompok, dan individual 
Sedangkan kelemahan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw menurut Shoimin adalah sebagai berikut:
a. jika guru tidak mengingatkan siswa agar selalu menggunakan keterampilan-keterampilan kooperatif dalam kelompok masing-masing, dikhawatirkan kelompok akan macet dalam pelaksanaan diskusi,
b. jika anggota kelompoknya kurang akan menimbulkan masalah,
c. membutuhkan waktu yang lebih lama, apalagi bila penataan ruang belum terkondisi dengan baik sehingga perlu waktu untuk mengubah posisi yang dapat menimbulkan kegaduhan 


E. Langkah-langkah strategi pembelajaran jigsaw
Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw menurut Shoimin adalah sebagai berikut:
a. Guru merencanakan pembelajaran yang akan menghubungkan beberapa konsep dalam satu rentang waktu secara bersamaan,
b.  Menyiapkan handout materi pelajaran untuk masing-masing kelompok,
c.  Guru menyiapkan tugas untuk masing-masing kelompok,
d. Bagilah kelas menjadi beberapa kelompok kemudian guru menyampaikan pengantar diskusi secara singkat,
e. Setiap kelompok mendalami materi pada handout atau materi yang menjadi pegangan,
f.   Pengelompokkan kelompok ahli,
g. Setelah selesai diskusi dengan kelompok ahli, siswa kembali ke kelompok asalnya,
h.  Guru mengukur hasil belajar dengan tes atau kuis. 













BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam metode pembelajaran teknik jigsaw termasuk dalam jenis metode pembelajaran kooperatif. Metode jigsaw adalah teknik pembelajaran kooperatif di mana siswa, bukan guru, yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam melaksanakan pembelajaran. Tujuan dari jigsaw ini adalah mengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif, dan menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh apabila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi sendirian. Metode ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawannya dari Universitas Texas dan kemudian di adaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya. Melalui metode jigsaw kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri dari 5 atau 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks; dan tiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut. 
Metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok dan bertanggung jawab atas penguasaan materi belajar yang ditugaskan kepadanya lalu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota kelompok lain
B. Saran
Guru seharusnya menjelaskan model pembelajaran tipe jigsaw ini dulu kepada siswa sebelum menerapkannya, agar siswa tidak binggung. Guru harus pandai dalam memilih materi pembelajaran yang tepat untuk diterapkan dalam model ini.
Bangku perlu ditata sedemikian rupa sehingga semua siswa bias melihat guru/papan tulis dengna jelas, bias melihat rekan-rekan kelompoknya dengan baik,dan berada dalam jangkauan kelompoknya dengan merata.
Model pembelajaran kooperatif tipejigsaw perlu digunakan atau diterapkan karena suasana positif yang timbul akan membarikan kesempatan kepada siswa untuk mencintai pelajaran dan sekolah atau guru, selain itu siswa akan merasa lebih terdorong untuk belajar dan berpikir serta meningkatkan keaktifan.






Daftar pustaka
Arends 1997. Model-Model Pembelajaran Inovatif berorientasi Konstruktivitis, Jakarta: Prestasi pustaka Publisher
Anita Lie.2002. Coomperatif Learning Teknik Jiksaw. Jakarta: Grasindo
Trianto 2011. Model Pembelajaran Terpadu Konsep,Strategi, Dan Implementsainya Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran KTSP, Jakarta: Bumi Aksara.
Shoimin,Aris 2014. 68 Model Pembelajaran INOVATIF dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA

Strategi Pembelajaran Number Head Together

 MAKALAH 

"Strategi Pembelajaran Number Head Together"


 

Nama : Bainal Huri

Nim : 1911210111 

Dosen 

Dr. Mus Mulyadi, S.Ag, M.Pd


Fakultas Tabiyah Dan Tadris

Prodi Pendidikan Agama Islam

Institut Agama Islam Negeri Bengkulu

2020



KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur selalu kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Sholawat dan salam selalu pula kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, keluarga dan sahabat-sahabatnya yang telah membawa kedamaian dalam beragama.

Makalah “STRATEGI PEMBELAJARAN PAI" ini saya buat sebagai salah satu pemenuhan tugas yang diajarkan oleh dosen pembimbing kami. Dengan harapan makalah ini dapat menambah pengetahuan dan memberikan manfaat bagi mahasiswa dan pembaca lainnya.

Saya selaku penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini tentunya masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan baik dari materi maupun tata cara penulisan. Maka dari itu saya sangat membutuhkan kritik yang bersifat membangun serta saran dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini.





Bengkulu, 16 Desember 2020


Penulis










DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN

Latar belakang 4

Rumusan masalah 5

Tujuan 5

BAB II PEMBAHASAN 

A. Pengertian SPNHT 6

B.  Tujuan SPNHT 7

C. Langkah-langkah SPNHT 8

D. Kelebihan SPNHT 11

E. Kekurangan SPNHT 12

BAB III PENUTUP

Kesimpulan 14

Saran 15

DAFTAR PUSTAKA










BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran berdasarkan hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional dikelas. Maka berbagai model pembelajaran yang banyak dirancang oleh para guru untuk dapat membantu peserta didik mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berpikir dan mengekspresikan ide. Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan sepiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. 

Model pembelajaran juga berfungsi sebagai pedoman bagi para guru dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar. Untuk itu salah satu model pembelajaran yang digunakan oleh guru adalah model pembelajaran Numbered Head Together atau kepala bernomor, yang dirancang secara sistematis sebagai upaya untuk meningkatkan penguasaan akademiki.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together cukup mudah.Numbered Head Together adalah model pembelajaran dimana setiap siswa diberi nomor dan dibuat suatu kelompok, kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa. 

Hasil belajar siswa yang baik merupakan tujuan utama dari setiap proses pembelajaran, usaha untuk mewujudkan hasil belajar yang memuaskan tentunya membutuhkan kerjasama yang baik dari komponen-komponen dalam proses belajar mengajar, yaitu: tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, model, alat dan sumber serta evaluasi.   Komponen-komponen ini juga harus dijadikan pondasi utama dalam proses pembelajaran, sebab komponenkomponen tersebut telah menjadi sistem yang saling bersinergi antara yang satu dengan yang lainnya dalam proses pembelajaran dan sangat erat kaitanya dengan faktor-faktor yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

B. Rumusan Masalah

A. Apa pengertian SPNHT ?

B. Apa saja tujuan SPNHT ?

C. Apa saja langkah-langkah SPNHT ?

D. Apa kelebihan SPNHT?

E. Aapa kekurangan SPNHT ?

C. Tujuan

A. Untuk mengetahui pengertian SPNHT.

B. Untuk mengetahui tujuan SPNHT.

C. Untuk mengetahui langkah-langkah SPNHT.

D. Untuk mengetahui kelebihan SPNHT.

E. Untuk mengetahui kekurangan  SPNHT.






BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian SPNHT

            Numbered Head Together adalah suatu model pembelajaran kooperatif yang menggunakan angka yang diletakkan diatas kepala dengan tujuan untuk memudahkan guru dalam mengeksplor aktifitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas. Strategi ini pertama kali dikenalkan oleh Spencer Kagan pada tahun 1992. 

Numbered head together atau penomoran berpikir bersama merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran. 

Pembelajaran kooperatif tipe numbered head together ini menggunakan pendekatan struktural yang telah dikembangkan oleh spencer kagan, yang menekankan penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa yang dimaksudkan sebagai alternatif untuk struktur kelas tradisional, seperti resitasi, yaitu guru mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas dan siswa memberikan jawaban setelah mengangkat tangan dan dipanggil namanya. Struktur Kagan mengharuskan siswa untuk bekerja secara interindependen (saling bergantung) dikelompok-kelompok kecil dan ditandai oleh reward kooperatif dan bukan reward individual. 

Menurut pemakalah berdasarkan pengertian diatas, model pembelajaran NHT (numbered head together) yaitu, pembelajaran kooperatif yang dilakukan dengan melibatkan para siswa untuk saling berinteraksi serta berfikir bersama, sehingga setiap siswa dapat aktif dalam penguasaan materi dengan cara menggunakan nomor pada kepala masing-masing siswa sebagai identitas yang memudahkan guru untuk mengeksplor aktifitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dapat dpresentasikan di depan kelas.

Penggunaan nomor pada kepala yang digunakan sebagai upaya untuk membangkitkan motivasi siswa secara individual dalam mengemukakan jawaban atau tanggapan secara lisan.

B. Tujuan SPNHT

Teknik dalam pembelajaran Numbered Head Together (NHT) ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja samamereka. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua usia tingkatan anak didik. 

Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu :

1. Hasil belajar akademik stuktural

Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.

2. Pengakuan adanya keragaman

Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang.

3. Pengembangan keterampilan sosial

Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.

Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen, dengan tiga langkah yaitu :

a. Pembentukan kelompok;

b. Diskusi masalah

c. Tukar jawaban antar kelompok 

Menurut Huda kekurangan dari model pembelajaran Koperatif tipe NHT yaitu:

a. memperluas pengetahuan siswa terhadap materi yang dipelajari

b. melatih siswa untuk berani menyampaikan pendapat, 

c. terciptanya saling percaya, serta kerjasama  antar siswa dan antar anggota kelompok untuk berfikir dalam menyelesaikan satu tugas atau masalah, 

d. siswa saling berfikir aktif dalam pelaksanaan pembelajaran sehingga siswa mampu untuk mengembangkan ketrampilan berfikirnya, dan 

e. dengan diterapkan pembelajaran kooperatif  model NHT ini terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa.  

C. Langkah-langkah  SPNHT

Pada Model PembelajaranNumbered Head Together (NHT) ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu; Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok. Masing-masing siswa dalam kelompok diberi nomor, Guru memberikan tugas/pertanyaan dan masing-masing kelompok mengerjakannya, Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya atau mengetahui jawabannya, Guru memanggil salah satu nomor siswa dan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka, Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain dan Menyimpulkan pembelajaran 

Menurut Kagen Arends guru menggunakan empat fase sebagai sintaks NHT sebagai berikut :

Fase 1. Penomoran (Numbering)

Guru membagi siswa menjadi beberapa  kelompok atau tim yang beranggotakan 3-5 orang dan memberi siswa nomor Setiap siswa dalam tim mempunyai nomor berbeda-beda,sesuai dengan jumlah siswa di dalam kelompok.

Fase 2. Pengajuan Pertanyaan (Questioning) 

Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sesuai dengan materi yang sedang dipelajari yang  bervariasi dari yang spesifik hingga bersifat umum dan dengan tingkat kesulitan yang bervariasi. Misalnya “berapa jumlah gigi orang dewasa?” Siswa menyimak dan menjawab pertanyaan

Fase3.  Berpikir  Bersama (Heads Together)

Guru memberikan bimbingan bagi kelompok siswa yang membutuhkan. Siswa berpikir bersama untuk menemukan jawaban dan menjelaskan jawaban kepada anggota dalam timnya sehingga semua anggota mengetahui jawaban dari masing-masing pertanyaan.

Fase 4. Pemberian Jawaban (Answering)

a. Guru menyebut salah satu nomor tertentu . 

Setiap siswa dari tiap kelompok yang bernomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas

b. Guru secara random memilih kelompok yang harus menjawab pertanyan tersebut

Siswa yang nomornya disebut guru dari kelompok tersebut mengangkat tangan dan berdiri untuk menjawab pertanyaan 

Dari langkah-langkah diatas kemudian dikembangkan oleh Ibrahim (2000:29) menjadi enam langkah yaitu:

Langkah 1. Persiapan

Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.

Langkah 2. Pembentukan kelompok

Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.

Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan

Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru.

Langkah 4. Diskusi masalah

Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.

Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban

Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.

Langkah 6. Memberi kesimpulan

Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan .

D. Kelebihan SPNHT

Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together yaitu; Setiap siswa menjadi siap semua, siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguhsungguh, siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai. 

Menurut Trianto menyebutkan bahwa kelebihan belajar kooperatif dengan metode struktural model NHT adalah:

a. Meningkatkan prestasi siswa.

b. Memperdalam pemahaman siswa.

c. Menyenangkan siswa dalam belajar.

d. Mengembangkan sikap kepemimpinan siswa.

e. Mengembangkan rasa percaya diri siswa.

f. Mengembangkan rasa saling memilki.

g. Mengembangkan keterampilan-keterampilan masa depan. 

Seperti di ungkapkan oleh Huda menyebutkan bahwa kelebihan dari model kooperatif yaitu:

Hasil pembelajaran yang lebih tinggi. Hasil ini meliputi produktivitas belajar yang semakin meningkat, daya ingat yang lebih lama, motivasi intrinsik yang  lebih besar, motivasi berprestasi yang semakin tinggi, kedisiplinan yang lebih  stabil, dan berfikir dengan lebih kritis.

Relasi antar siswa yang lebih positif. Relasi meliputi ketrampilan bekerjasama yang semakin baik, kepedulian pada orang yang semakin meningkat, dukungan sosial dan akademik yang semakin besar, kohesivitas yang lebih stabil, dan sikap toleran akan perbedaan. 

Kesehatan psikologis yang lebih baik. Kesehatan ini meliputi penyesuaian psikologis, perkembangan sosial, kekuatan ego, kompetensi sosial, harga diri, identitas diri, dan kemampuan menghadapi kesulitan 

E. Kekurangan SPNHT 

Kelemahan dari model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together yaitu; Kemungkinan nomor yang sudah dipanggil pendidik akan dipanggil lagi dan tidak semua kelompok dipanggil oleh pendidik 

Menurut Trianto kekurang pembelajaran NHT sebagai berikut:

a. Membutuhkan waktu yang cukup lama bagi siswa dengan guru, Selain itu membutuhkan kemampuan yang khusus dalam melakukan atau menerapkannya.

b. Kemungkinan nomor yang telah dipanggil akan dipanggil kembali oleh guru.

c. Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru.

d. Proses diskusi dapat berjalan lancar jika ada siswa yang sekedar menyalin pekerjaan siswa yang pandai tanpa memiliki pemahaman yang memadai.

e. Pengelompokkan siswa memerlukan pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda serta membutuhkan waktu khusus. 

Dalam pelaksanaan pembelajaran NHT suasana kelas menjadi lebih ramai bahkan sampai tidak terkontro, guru harus dapat melakukan pengelolaan kelas dengan baik serta guru harus melakukan persiapan yang matang sebelum menerapkan model NHT.  


 

































BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembehasan diatas mendapatkan kesimpulan sebagai berikut :

1. Pembelajaran NHT adalah pembelajaran kooperatif yang dilakukan dengan melibatkan para siswa untuk saling berinteraksi serta berfikir bersama, sehingga setiap siswa dapat aktif dalam penguasaan materi dengan cara menggunakan nomor pada kepala masing-masing siswa yang memudahkan guru untuk mengeksplor aktifitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dapat dpresentasikan di depan kelas.

2. Adapun tujuan pembelajaran NHT yakni meliputi Hasil belajar akademik stuktural, pengakuan adanya keragaman, pengembangan keterampilan sosial

3. Langkah-langkah dalam pembelajaran NHT antara lain: persiapan, pembentukan kelompok, memastikan setiap kelompok harus memiliki buku paket dan buku panduan, diskusi masalah, memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban, diakhiri dengan pemberian kesimpulan.

4. Kelebihan pembelajaran NHT adalah siswa lebih memperdalam materi seinggga prestasi meningkat, pembelajaran terkesan menyenangkan, dan mengembangkan rasa percaya diri pada siswa. Sedangkan kekurangan pembelajaran NHT adalah membutuhkan waktu yang cukup lama dan khusus, tidak semua nomor yang terpanggil, dan memungkinkan bagi siswa yang kurang pandai hanya menyalin jawaban dari siswa yang pandai.

B. Saran

Dari pemahaman pembelajaran Numbered Head Together (NHT), diharapkan bagi semua guru mata pelajaran dapat menerapkan metode pembelajaran ini pada kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah sebagai upaya agar siswa dapat lebih aktif dalam penguasaan materi .


DAFTAR PUSTAKA

Arends, Richard. I. 2008. Learning to teach. Yokyakarta: Pustaka Pelajar.

Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Cv Pustaka ,Seria.

Huda Miftahul. 2013. Cooperative Learning. Pustaka Belajar. Yogjakarta.

Ibrahim, Muslimin, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : University Press.

Kokom komalasari. 2010. Pembelajaran Kontekstual (konsep dan aplikasi),Bandung: Refika Aditama.

Saiful Bahri Djamarah, Aswan Zain. 2006.Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta. 

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning. Yokyakarta: Pustaka Pelajar.

Tim Redaksi Nuansa Aulia. 2008. Sistem Pendidikan Nasional,Bandung: Nuansa Aulia. 

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik Konsep,Landasan Teoritik Praktis dan Implementasinya. Jakarta: Prestasi Pustaka.


Strategi Pembelajaran Jigsaw

MAKALAH  Strategi Pembelajaran PAI "Strategi Pembelajaran Jigsaw"   Nama : Bainal Huri Nim : 1911210111 Dosen  Dr. Mus Mulyadi, S....